Seorang wanita renta duduk di beranda rumahnya. Sengaja ia memejamkan mata, tetapi mempertajam telinga. Mendengar dan mengingat satu per satu ingar bingar yang masuk pendengarannya.
Perjalanan ini menyimpan materi Hebatnya, Tak ternilai oleh uang Perkara apa telah dijalani diri Membuat diri ingin pulang Menahan segala keinginan Sadar Perubahan bukanlah pilihan
Kota ini penyimpan doa yang ulung. Didengarkannya dengan saksama bisikmu sebelum melangkah dari rumah, Bisik yang sama setiap hari : berharap sekaligus berserah. Tiap pintu
Siapa tak ingin berpendidikan Ke Kotanya saja ingin Segalanya selalu menarik Peluang menjadi yang terbaik Sudahkah kita memahami Pendidikan haruslah dipahami Tak bertolak ukur pada
Rutinitas kian padat Seperti jalanan ibu kota, merayap Datanglah rasa bernama penat Terjadilah apa tak sesuai harap Benar, hidup tak meluluh manis Hatipun tak mudah