Seorang kakak Tersandang atas empiris perjalanan Dia tumbuh bagaikan pohon Tak pernah memohon Ada kalanya, manusia seperti burung Datang silih berganti Datang sekedar singgah Pergi
Malam telah pekat Bersama dingin yang menjalar Sentuh kulit, jauh dari keluarga Merantau sekuat tenaga Malam hanyalah perantara Antara dua hari Antara dua kesempatan Rasanya
Diantara pilihan Lihatlah kebawah Disini ada hati Kelak akan mengerti Sekalipun bertemu jalan buntu Pastilah akan membantu Ada kalanya pilihan tak sesuai Apa pernah kita
Bisik itu masih melingkar Pada hati lelah berjalan Sedikitpun tak sadar Luka terhunus selama perjalanan Di belakang, ada pisau Kertas selalu menjadi danau Menggelamkan segenap
Daun liar yang tenang Bersama burung yang sedang menari Sunyi saat tak ada yang berjalan Menatap bagaimana pondasi mengelilingimu Palembang Kota yang aneh tanpa kebisingan