Menilik Empat Senjata Tradisional Asal Sumsel

Menilik Empat Senjata Tradisional Asal Sumsel
Ilustrasi keris Palembang yang berbilah lurus © bukalapak.com

Selain karena kuliner pempeknya yang legendaris, Sumsel juga dikenal memiliki banyak peninggalan bersejarah, baik yang berwujud maupun tidak berwujud. Khusus peninggalan sejarah berwujud, beberapa museum di Sumsel—seperti Museum Balaputradewa—diketahui mengoleksi sebagian dari peninggalan-peninggalan tersebut. Mulai dari mata tombak dan kapak lempar manusia purba, hingga kain tenun songket, semuanya tersimpan dengan apik di museum. Salah satu peninggalan sejarah berwujud yang menarik untuk diamati adalak senjata tradisional Sumsel, yang notabene tidak dibahas sesering tarian adat maupun pakaian adat Sumsel oleh semua orang.

Sebagian senjata tradisional Sumsel sebenarnya bukan merupakan peninggalan sejarah, karena masih aktif diproduksi dan dimanfaatkan oleh masyarakat Sumsel hingga saat ini, baik dari segi fungsi maupun estetika. Seperti apa rupa senjata tradisional Sumsel? Srivijaya.id kali ini merangkum empat senjata tradisional asal Sumsel.

1. Keris Palembang

Keris Melayu yang memiliki ciri khas gagang berbentuk mirip kepala burung © swordsantiqueweapons.com

Keberadaan senjata keris memiliki kaitan yang erat dengan sejarah perkembangan kerajaan-kerajaan di nusantara. Senjata tradisional satu ini memang pada awalnya bukan berasal dari Sumatera, melainkan Jawa. Berbagai kidung dan cerita rakyat di Jawa sering menyebutkan penggunaan senjata tajam ini dalam kisahnya, membuktikan eksistensinya sebagai senjata tradisional ‘sepuh’ di Indonesia.

Namun karena kemasyhurannya di antara masyarakat Indonesia, penggunaan keris sebagai senjata pun menjadi umum di beberapa tempat di Indonesia. Beberapa wilayah di Indonesia memiliki keris khasnya sendiri, tak terkecuali Palembang. Berbeda dengan keris pada umumnya, keris Palembang memiliki lekukan bilah (luk) yang berjumlah ganjil, mulai dari tujuh lekukan hingga 13 lekukan. Keris Palembang ditempa dari tiga unsur logam, yaitu besi, baja dan pamor. Ciri khas lain keris Palembang terdapat pada gagangnya yang terbuat dari kayu keras atau gading dan berbentuk menyerupai kepala burung, ciri khas keris Melayu. Keunikan lainnya juga terdapat pada sarung keris (warangka) yang umumnya berbentuk menyerupai perahu bidar, menggambarkan kedaulatan Kesultanan Palembang sebagai kerajaan maritim yang berkuasa di masa lalu.

Pada masanya, selain berfungsi sebagai senjata, keris Palembang juga merupakan simbol kebangsawanan, bagian dari ritual keagamaan dan bentuk legitimasi kekuasaan. Hingga kini keris masih sering digunakan sebagai aksesoris pelengkap pakaian adat tradisional Sumsel.

2. Tombak Trisula

Tombak trisula khas Sumsel yang diduga mulai dipergunakan sejak era Kerajaan Sriwijaya © ringkaskata.com

Tidak banyak masyarakat Sumsel yang tahu bahwa tombak trisula merupakan salah satu senjata tradisional asal Sumsel. Senjata bermata tiga tersebut lebih sering muncul dalam kisah mitologi Yunani dan Romawi.

Tidak diketahui pasti kapan tombak trisula mulai digunakan oleh masyarakat Sumsel, namun sebagian ahli yakin bahwa perkembangan penggunaan tombak trisula berkaitan dengan perkembangan ajaran Hindu di Sumsel pada masa Kerajaan Sriwijaya. Teori tersebut muncul karena trisula merupakan senjata yang selalu dipegang oleh Dewa Siwa, salah sayu dari tiga Trimurti yang disembah dalam ajaran Hindu.

Trisula Palembang memiliki keunikan tersendiri, yaitu pada kedua sisinya. Di bagian mata tombaknya, trisula memiliki tiga ujung lancip, sementara pada sisi lainnya yang harusnya tumpul, justru terdapat mata tombak ekstra yang tajam. Beberapa trisula yang menjadi temuan arkeologis kini disimpan di Museum Balaputradewa.

3. Skin

Skin, senjata tradisional Palembang © sumsel.tribunnews.com

Skin memiliki nama lain jembio, rambai ayam dan taji ayam, karena bentuknya yang menyerupai ekor dan taji ayam jantan. Skin adalah senjata tusuk, berupa pisau genggam pendek yang bilahnya meruncing dan melengkung. Skin diduga muncul sebagai bentuk asimilasi kebudayaan melayu dan tionghoa. Skin yang dibuat oleh pandai besi umumnya berukuran panjang antara 25 - 30 cm untuk skin rambai ayam, dan 10 – 15 cm untuk skin taji ayam.

Menurut kepercayaan masyarakat Sumsel, skin mempunyai kedudukan yang penting bagi pemiliknya, karena selain sebagai senjata, skin juga dianggap sebagai benda keramat yang mempunyai kekuatan magis. Sementara dari sisi budaya, skin memiliki nilai filosofis yang mendalam, karena estetika yang terdapat dalam senjata skin menyimbolkan nilai-nilai kemanusiaan, seperti keindahan, ketekunan, kesabaran dan ketelitian.

Baru-baru ini, keunikan senjata skin bahkan diadaptasi dalam desain obor Asian Games 2018 yang dikirab berkeliling Asia.

4. Kudhok

Kudhok, senjata tradisional asli dari Bumi Besemah © pagaralampos.com

Bergeser ke arah hulu, tepatnya dalam masyarakat Pagaralam, terdapat satu varian lain dari senjata tradisional Sumsel. Senjata tajam tersebut bernama kudhok. Kudhok adalah sebilah pisau kecil yang bentuknya menyerupai badik khas daerah Lampung. Bilahnya ditempa dari bahan logam berkualitas, sementara gagang dan sarungnya dibuat dari kayu jati, kayu nangka, atau kayu ghumai. Kudhok kerap dibawa para pria Besemah di masa lampau kemana pun untuk menjaga diri. Kebiasaan membawa kudhok bagi para bujang hingga kini masih tetap ada, khususnya di masyarakat Pagaralam hulu.

Kudhok sendiri mempunyai beragam jenis, namun yang paling banyak digemari adalah kudhok dari jenis betelok, luncu, gerahang dan kudhok rambai ayam yang bentuknya menyerupai jalu ayam.

Tahap membakar dan menempa merupakan tahap yang paling lama dalam proses pembuatan kudhok. Tahap ini akan memakan waktu lebih lama lagi jika si pembeli memesan bentuk kudhok sesuai dengan keinginannya. Bahkan seorang pandai besi yang membuat kudhok pesanan kadang melakukan pendekatan tertentu kepada pemesan untuk menghasilkan senjata kudhok yang sesuai dengan kepribadian pemesan. Kini, kudhok biasa dijual di wilayah Pagaralam sebagai cinderamata bagi turis.

(dirangkum dari berbagai sumber)

Pilih Bangga Bangga 42%
Pilih Sedih Sedih 8%
Pilih Senang Senang 26%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 7%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 10%
Pilih Terpukau Terpukau 8%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu