Jembatan Ampera, Salah Satu Ikon Kota Terpopuler di Indonesia

Jembatan Ampera, Salah Satu Ikon Kota Terpopuler di Indonesia
Jembatan Ampera © Sriwijaya Post

Palembang, jika ditanya apa yang diketahui tentang kota ini sebagian besar dari jawabannya pasti menyebutkan Jembatan Ampera. Setiap kota memiliki ikon khusus yang membuatnya lebih dikenal sekaligus menjadikan ciri khas dari kota tersebut. Seperti halnya Jakarta dengan Tugu Monasnya, ataupun Padang dengan ikon yang menyerupai Big Ben dari London yakni Jam Gadang, maka Palembang terkenal dengan Jembatan Amperanya.

©threelensmedia

Palembang terbagi menjadi dua wilayah yang dipisahkan oleh Sungai Musi, yaitu seberang ilir dan seberang ulu dan Jembatan Ampera lah yang menghubungkan kedua wilayah tersebut yang pada akhirnya menjadi simbol kota pempek ini.

Jembatan Ampera yang memiliki panjang total 1.117 meter dan lebar 22 meter serta 63 meter. Pada masanya, jembatan ini tercatat sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara.

Sejak zaman pemerintahan kolonial belanda di tahun 1906, rencana pembangunan Jembatan Ampera sudah mulai dibicarakan, namun rencana tersebut baru mulai bergerak pada tahun 1957 setelah disetujui oleh Presiden RI IR Soekarno. Pada tahun 1962, pembangunan jembatan pun akhirnya dilaksanakan dengan dibiayai oleh Pemerintah Jepang atas kompensasi perang dunia II terhadap Indonesia. Pembangunan Jembatan Ampera berlangsung selama sekitar 3 tahun dimana pada tanggal 30 September 1965 Jembatan Ampera diresmikan oleh Letjen Ahmad Yani.

©gosumatra

Masih ingatkah kalian kalau dulunya Jembatan ini bukan bernama Ampera? Dulunya, saat pertama kali dibangun, Jembatan ini diberi nama Jembatan Bung Karno.  Namun, ketika terjadi pergolakan gerakan Anti-Soekarno pada tahun 1966, nama jembatan akhirnya diganti menjadi Jembatan Ampera yang berarti Amanat Penderitaan Rakyat.

Dulunya, bagian tengah Jembatan Ampera yang memiliki berat keseluruhan 944 ton itu dapat diangkat dengan kecepatan sekitar 10 meter per menit. Dua menara pengangkat yang dapat berdiri tegak hingga setinggi 63 meter dan jarak antara dua menara sekitar 75 meter serta dilengkapi dengan dua bandul pemberat yang masing-masing sekitar 500 ton ini diangkat agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh bagian tengah jembatan ialah selama sekitar 30 menit.

©rebanas

Sejak tahun 1970, bagian tengah Jembatan Ampera sudah tidak lagi dinaikturunkan karena sudah tidak ada lagi kapal-kapal besar yang melewati Sungai Musi akibat pendangkalan hingga akhirnya, dua bandul pemberat untuk mengangkat dan menurunkan bagian tengah jembatan dibongkar dan diturunkan pada tahun 1990 karena khawatir jika sewaktu-waktu akan terjatuh.

Sejak pertama kali dibangun, Jembatan Ampera sudah mengalami beberapa kali renovasi. Warna Jembatan pun turut mengalami tiga kali perubahan. Saat pertama kali berdiri Jembatan Ampera berwarna abu-abu, kemudian diganti menjadi warna kuning pada tahun 1992, dan akhirnya menjadi warna merah yang bertahan sejak tahun 2002 sampai sekarang.

Sehubungan akan dilaksanakannya Asian Games 2018 di Palembang tahun ini, Jembatan Ampera akan kembali diperbaiki. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Palembang dikabarkan akan mengalokasikan dana sebesar Rp 20 Miliar untuk perbaikan ikon kota Palembang ini. Perbaikan akan difokuskan pada rangka baja di bagian bawah jembatan, pengecatan jembatan hingga kawasan trotoar.

penasaran bagaimana Jembatan Ampera dulunya? yuk lihat video Beberapa Inovasi Jembatan Gerak Berikut Ini!


Sumber: CNN Indonesia | Sriwijaya Post 

Pilih Bangga Bangga 29%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 14%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 14%
Pilih Terpukau Terpukau 43%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu