Perempatan Cita-cita Tito Karnavian, dari Dokter Menjadi Polisi

Perempatan Cita-cita Tito Karnavian, dari Dokter Menjadi Polisi
Jenderal Pol. Muhammad Tito Karnavian © nawacita.co

Siapa yang tak kenal nama Tito Karnavian? Saat Jenderal Pol. Badrodin Haiti hendak  memasuki masa purna-tugas sebagai Kapolri, pria asal Palembang ini resmi mengambil alih peran dan tanggung jawabnya sebagai Kapolri. Tepatnya pada tanggal 13 Juli 2016 silam, Presiden RI Joko Widodo resmi melantik Tito Karnavian menjadi Kapolri.

Karirnya yang melejit dan kenaikan pangkatnya yang kerap menyalip banyak seniornya membuat sosok Tito Karnavian menjadi sorotan banyak pihak. Namun siapa sangka, terlepas dari berbagai prestasinya di kepolisian, awalnya ia justru bercita-cita menjadi dokter alih-alih polisi. Keputusan Tito Karnavian untuk berkarir sebagai polisi dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah keadaan ekonomi keluarganya saat ia masih bersekolah.

Bernama lengkap Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D., Tito lahir di Palembang pada 26 Oktober 1964 dari pasangan Muhammad Saleh dan Supriatini. Ayahnya pernah berprofesi sebagai wartawan Radio Republik Indonesia (RRI). Tito adalah anak kedua dari enam bersaudara.

Sejak duduk di bangku sekolah, Tito Karnavian telah menunjukkan kecerdasan yang di atas rata-rata. Ia juga terkenal sebagai siswa yang disiplin, berprestasi dan menyayangi keluarga. Usai menamatkan pendidikannya di SMAN 2 Palembang, Tito mengikuti tes masuk perguruan tinggi dengan pilihan Pendidikan Dokter Universitas Sriwijaya (Unsri) dan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia juga mendaftar AKABRI dan STAN Jakarta. Tanpa disangka, Tito lulus di semua tes yang ia ikuti. Pilihan Tito untuk melanjutkan hidup yang lebih baik telah terbuka lebar di depan mata, ia hanya perlu memilih.

Meski ayahnya menyarankan Tito untuk menjadi dokter agar dapat berbagi manfaat dengan banyak orang, akan tetapi Tito memilih jalannya sendiri. Tito Karnavian paham bahwa kondisi ekonomi keluarganya sedang sulit dan dia masih memiliki empat adik untuk disekolahkan, sementara biaya kuliah kedokteran di Unsri sangat tinggi. Oleh karena itu, Tito memilih alternatif yang paling ‘murah’ dari semua pilihannya, yaitu AKABRI, khususnya Akademi Kepolisian di Magelang yang pada saat itu biaya pendidikannya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Maka dengan dibekali uang Rp. 12.000,- oleh orangtuanya, Tito pun berangkat merantau ke Jawa untuk menempuh pendidikan polisi.

Dorongan untuk meringankan beban orangtuanya membuat Tito belajar dan berlatih dengan giat. Semuanya berbuah manis. Tito Karnavian lulus dari Akademi Kepolisian  Magelang pada tahun 1987 di usia 23 tahun dengan menyabet penghargaan Bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik. Setelah lulus, ia langsung ditugaskan di Polres Jakarta Pusat dengan tugas teritorial pertama sebagai Kanit Jatanras Reserse Polres Metro Jakarta Pusat. Selain pendidikan polisi di Akpol, Tito juga pernah mengenyam pendidikan pascasarjana di bidang Police Studies di University of Exeter (1993), Pendidikan S-1 bidang Ilmu Kepolisian di PTIK Jakarta (1996), Pendidikan BA di Strategic Studies di Massey University (1998), lalu terakhir pendidikan S-3 di Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University (2013).


Tito Karnavian banyak bertugas di reserse. Karirnya bergulir dari Polsek, Polres, Polda, hingga di Polri. Namanya mulai dikenal saat ia berhasil menangkap Tomy Soeharto, dalang pembunuhan Hakim Agung Saifudin, pada tahun 2001. Ia ditugaskan sebagai ketua Tim Kobra bentukan Reskrim Polda Metro Jaya. Ia pun diganjar kenaikan pangkat dari Mayor ke Ajun Komisaris Besar (AKBP).

Kariernya terus berlanjut, ia ditugaskan di detasemen 88 Anti Teror Polda Metro Jaya pada tahun 2004. Dengan pangkat AKBP, ia memimpin tim dengan 75 personil dan berhasil meringkus teroris jaringan Dr. Azahari Husin di Batu, Malang, Jawa Timur pada 9 November 2005. Atas prestasinya ini, ia lagi-lagi mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa dari AKBP menjadi Komisari Besar Polisi (Kombespol). Di tahun-tahun berikutnya, Tito juga berhasil menangkap DPO kasus konflik Poso pada 2007, juga membekuk teroris Noordin M. Top pada 2009. 

Sepak-terjangnya yang gemilang dalam pemberantasan terorisme membuatnya ditarik menjadi bagian dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Tito lalu ditugaskan menjadi Kapolda Papua pada tahun 2012. Posisi barunya begitu menantang, mengingat di wilayah seluas Papua, hanya terdapat satu Polda, dan Polda tersebut dipimpin langsung olehnya. Berbagai konflik bersenjata dan gerakan separatisme turut memperberat tanggung jawabnya selama menjabat sebagai Polda. Pun demikian, Tito tetap sukses menjalankan tugasnya, meski tidak semua permasalahan mampu ia selesaikan mengingat betapa rumit dan dalamnya konflik di tanah Papua.

Namanya makin terkenal saat ia ditunjuk menjadi Kapolda Metro Jaya. Tito Karnavian bertindak cekatan dalam menangani kejadian teroris Bom Thamrin, Jakarta. Terhitung baru sembilan bulan menjabat Kapolda, ia ditunjuk menjadi  Kepala BNPT. Pangkatnya pun ikut naik dari Inspektur Jenderal Polisi (Irjen) menjadi Komisaris Jenderal Polisi (Komjen).

Pada tanggal 15 Juni 2016, Presiden Joko Widodo mengirim surat kepada DPR yang isinya menunjuk Tito sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Jenderal Pol. Badrodin Haiti yang akan segera memasuki masa pensiun. DPR menyetujui usulan ini dalam sidang paripurna pada awal bulan Juli 2016. Tito resmi dilantik sebagai Kapolri oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 13 Juli 2016. Dengan jabatan barunya tersebut, ia menjadi lulusan Akpol angkatan 1987 tercepat yang menyandang pangkat bintang empat.

Banyak gebrakan yang dilakukan Tito Karnavian sejak masa awal jabatannya. Salah satunya adalah Tito meminta jajarannya untuk blusukan mengurai kemacetan setiap Senin pagi dibandingkan melakukan Apel Pagi. Gebrakan lainnya adalah penghapusan kolusi dari praktik kerja polisi sehari-hari, termasuk dalam penerbitan SIM dan surat-surat kepolisian lainnya.

Sepanjang karirnya, Tito Karnavian menerima berbagai penghargaan, antara lain : Bintang Adhi Makayasa (Lulusan Terbaik Akpol 1987), Bintang Wiyata Cendekia (Lulusan Terbaik PTIK Jakarta), Bintang Seroja (Peserta Lemhannas RI PPSA XVII 2011 Terbaik) serta kenaikan pangkat luar biasa sebanyak enam kali sepanjang tahun 2001 hingga 2016. Tito Karnavian menikah dengan Tri Suswati dan kini telah dikaruniai tiga orang anak.

(Sumber : viva.co.id; wikipedia)

Pilih Bangga Bangga 33%
Pilih Sedih Sedih 0%
Pilih Senang Senang 0%
Pilih Tak Peduli Tak Peduli 0%
Pilih Terinspirasi Terinspirasi 67%
Pilih Terpukau Terpukau 0%

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu